Linimasa Kami

Apa yang kamu cari?

Rona

Bakau dan Jejak Ketangguhan Nusantara di Masa Lampau

Pada masa lampau, peradaban Nusantara begitu lekat dengan tanaman bakau. Bukan saja sebagai komoditas penunjang ekonomi, tapi juga sebagai pemandu dalam petualangan bahari.

Ilustrasi keindahan hutan bakau/Foto: Ist

Tanaman bakau atau juga dikenal dengan nama mangrove sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan maritim bangsa Nusantara sejak masa lampu. Sekitar 25.000 tahun Sebelum Masehi (SM). Dari catatan pelbagai penelitian, bangsa Austronesia yang tak lain adalah nenek moyang bangsa Nusantara diketahui memanfaatkan bakau untuk menunjang kehidupan keseharian mereka, seperti untuk makanan, bahan bangunan, pembuatan kapal, pewarna alami, juga bahan obat.

Fakta itu disampaikan oleh Ary Prihardyanto Keim, etnobiolog dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Kiem menjelaskan, bangsa Nusantara di masa lalu terdiri dari bangsa Austronesia yang memiliki cakupan wilayah sangat luas. Membentang dari Pulau Madagaskar, Afrika bagian barat, hingga Pulau Paskah di tengah Samudera Pasifik bagian timur.

Peneliti yang fokus pada etnobotani dan etnobiologi itu menuturkan, di masa lalu, Austronesia dikenal sebagai bangsa yang menguasai keahlian untuk bertahan hidup, baik di darat maupun di laut. Keahlian itu bahkan sudah dimiliki sejak Austronesia masih menjadi bagian dari wilayah Paparan Sunda (Sundaland) dan kemudian berpisah saat zaman es ketiga pada 11.000 hingga 10.000 Sebelum Masehi (SM).

Menurut Keim, saat zaman es ketiga berakhir, sebagian besar anak benua tenggelam dan bangsa Austronesia mulai berlayar luas dan melakukan penjelajahan ke Samudera Hindia dan Pasifik berikut peradaban mereka.

Sebaran-bangsa-Austronesia/Gambar: Dok. Ary Prihardyanto Keim.

“Sebagai bangsa yang besar, Austronesia sudah terbiasa memanfaatkan bakau sejak wilayahnya masih menjadi bagian dari Sundaland sekitar 25.000 sampai 10.000 tahun SM. Dalam melakukan penjelajahan, bangsa Austronesia biasa menggunakan perahu bercadik (outrigger boats),” kata Kiem dikutip dari rekaman diskusi virtual bertajuk “Berdaya dengan Mangrove: Aksi Cerdas Konservasi Keanekaragaman Hayati” yang diunggah diakun YouTube Yayasan Kehati.

“Austronesia sudah terbiasa memanfaatkan bakau sejak wilayahnya masih menjadi bagian dari Sundaland sekitar 25.000 sampai 10.000 tahun SM.

Mengandalkan bakau

Kiem memaparkan, perahu bercadik menjadi ciri khas bangsa Nusantara di masa lalu dan memiliki kemampuan sangat baik saat digunakan untuk berlayar ke berbagai tujuan. Saat akan mencapai tujuan yang dimaksud para pelayar tangguh itu biasa menggunakan bakau sebagai salah satu bagian pendaratan. Hal itu juga dibuktikan dari sejarah Kerajaan Sriwijaya (abad ke-7) dan Kerajaan Majapahit (abad ke-13). Dalam perluasan wilayah kekuasaan, penjelajahan maritim dan perdagangan antarbangsa dengan ciri khas perahu cadik ternyata mengikuti persebaran jenis bakau di wilayah Austronesia.

Banyak literatur sejarah maupun buku etnografis yang memperkuat keberadaan aktivitas pelayaran dan perdagangan masyarakat Nusantara ke Afrika pada masa lalu. Misalnya buku Penjelajah Bahari, Dick-Read, 2005. Pengaruh budaya Nusantara juga bisa dilihat dalam bentuk seni musik, bahasa, dan teknologi perkapalan pada masyarakat pesisir pantai Afrika. Di dinding Candi Borobudur, misalnya, sebuah perahu bercadik terpahat di salah satu panel relief Jataka-Avadana pada lorong pertama. Di sisi kiri perahu, tampak aktivitas perniagaan sedang berlangsung berlatar belakang tanaman. Kiem, menyebut salah satu tanaman itu teridentifikasi sebagai tanaman bakau di garis pantai. Bahkan, menurut Kiem, relief itu juga menceritakan adanya peran sang jagawana (penjaga hutan dan bakau) untuk melindungi flora di daerah pesisir.

“Artinya, bangsa kita sangat menghormati mangrove. Mangrove itu kita,” kata Kiem.

Relief Jataka-Avadana pada lorong I Candi Borobudur/Gambar: Dok. Ary Prihardyanto Keim

Bakau adalah kita, kata Kiem. Ia juga dijuluki sebagai emas hijau dari pesisir. Artinya, betapa pentingnya keberadaan bakau bagi kehidupan bangsa ini. Maka tak ada alasan untuk mengabaikan keberadaannya. Menjaga bakau berarti menjaga eksistensi dan identitas kita sebagai bangsa bahari Nusantara.

Fungsi hutan bakau sebagai potensi sumber daya laut di Indonesia adalah fungsi ekologis dan ekonomis. Fungsi ekologis hutan bakau adalah sebagai habitat (tempat hidup) binatang laut untuk berlindung, mencari makan, dan berkembang biak. Bakau juga menjadi benteng pelindung pantai dari abrasi air laut. Sementara fungsi ekonomis hutan bakau berupa nilai ekonomis dari kayu dan pepohonan dan makhluk hidup yang ada di dalamnya.

Ditulis Oleh

Founder Inba Digital Media, Jurnalist, Content Creator

Klik utk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gaya

Humaniora

“Setiap generasi punya revolusinya sendiri. Kita, generasi muda saat ini, punya revolusi merestorasi lingkungan, antisipasi, serta mencegah keparahan dampak sosial-ekonomi dari perubahan iklim. Bergerak...

Rona

Pada masa lampau, peradaban Nusantara begitu lekat dengan tanaman bakau. Bukan saja sebagai komoditas penunjang ekonomi, tapi juga sebagai pemandu dalam petualangan bahari.

Warta

Inba.tv, Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Ditjen PRL) pulihkan ekosistem mangrove (bakau) di wilayah pesisir Lombok...

Gaya

  Pandemi membuat kita ragu untuk pergi ke salon kecantikan, meski banyak yang sudah beroperasi dengan protokol kesehatan yang ketat. Namun, karena punya lebih...

Warta

Manggarai Barat, NTT, INBA.TV –  Pandemi COVID-19 berdampak cukup besar terhadap industri wisata selam. Kondisi ini juga terjadi di Indonesia Timur yang merupakan destinasi wisata...

Wisata

Legenda bumi Ujung Kulon barang kali sudah tak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Letaknya di ujung barat Pulau Jawa, masuk wilayah Provinsi Banten....

Artikel Lainnya