Harmoni Dua Budaya pada Arsitektur Masjid Agung Banten

Masjid Agung Banten

INBA-TV – Sepuluh kilometer sebelah utara Kota Serang, terdapat sebuah bangunan yang gagah memesona, perpaduan antara budaya Nusantara dan keindahan arsitektur Asia-Eropa. Dari jauh, akan terlihat menara mercusuar di bagian timur bangunan, dengan atapnya bertumpuk lima menyerupai pagoda Cina. Memiliki ketinggian kurang lebih 24 meter dan bagian bawahnya berdiameter sekira 10 meter. Menara ini terbuat dari batu bata, bisa dinaiki melalui lorong sempit dengan 83 anak tangga yang hanya cukup dilalui oleh satu orang. Dari atas menara, pengunjung bisa menikmati pemandangan sekeliling dan perairan lepas pantai yang berjarak sekitar 1,5 meter.

Ialah Masjid Agung Banten, salah satu masjid tertua di Indonesia, yang sarat akan nilai sejarah, serta berciri khas bentuk menaranya. Atapnya yang bersusun lima dirancang oleh arsitek asal Cina bernama Tjek Ban Tjut mendapat gelar Pangeran Adiguna, dapat dimaknai sebagai simbol shalat lima waktu.

Sementara bentuk menaranya yang tinggi, dirancang oleh Hendick Lucasz Cardeel, arsitek dari Belanda bergelar Pangeran Wiraguna. Menara tersebut difungsikan untuk mengumandangkan azan, walaupun dulunya pernah pula sebagai tempat menyimpan senjata.

Bangunan masjidnya dirancang oleh Raden Sepat yang berasal dari Kerajaan Majapahit, merupakan arsitek Masjid Agung Demak dan Masjid Cipta Rasa Cirebon. Adapun filosofi dari bangunan masjid yaitu, enam pintu masjid yang menggambarkan rukun iman. Pintu masuk masjid sengaja dibuat pendek, sehingga pengunjung yang masuk harus merunduk, sebagai simbol ketundukan kepada Sang Pencipta. Tiang masjid terdiri dari 24 buah, sebagai simbol waktu 24 jam. Terdapat pula dua serambi di sisi utara dan selatan, sebagai pelengkap.

Masjid Agung Banten dibangun pertama kali pada abad ke-16, pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin (1552 – 1570), merupakan raja pertama Banten dengan gelar Panembahan Surosowan. Sultan Hasanuddin adalah putra pertama dari Sunan Gunung Jati, penguasa Cirebon sekaligus salah satu ulama Wali Songo.

Luas masjid mencapai 1,3 hektar, memiliki area kompleks seluas 2 hektar yang dikelilingi tembok setinggi 1 meter. Di dalamnya terdapat kompleks pemakaman para sultan Banten beserta keluarganya. Di area utama ada makam Sultan Maulana Hasanuddin beserta istri, Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Abu Nasir Abdul Qohhar. Sementara di sisi lain terdapat pula makam Sultan Maulana Muhammad, Sultan Zainul Abidin, dan lainnya.

Di sisi selatan bangunan inti masjid, berdiri paviliun tambahan dengan dua lantai, berbentuk persegi panjang dengan gaya arsitektur Belanda Kuno, yang diberi nama Tiyamah. Masjid agung ini telah dilengkapi pula dengan wisma penginapan berkapasitas 23 kamar untuk berbagai kelas.

Masjid yang telah mengalami revitalisasi pada tahun 2019 ini selalu ramai oleh pengunjung dari berbagai daerah, untuk tujuan wisata religi ataupun berziarah. Dengan tambahan payung raksasa di halaman masjid serupa dengan masjid Nabawi di Madinah, pesona Masjid Agung Banten semakin terpancar. Apalagi ketika malam  tiba, bangunan masjid akan tampak berkilau dari semua nyala lampu yang dihidupkan.

Di seberang masjid terdapat pula situs cagar budaya, yang bernama Watu Gilang, yaitu sebuah batu andesit berbentuk segi empat dengan permukaan datar. Menurut tradisi, watu (batu) ini digunakan sebagai tempat penobatan raja-raja kesultanan Banten.

Masjid yang beralamat di Kompleks Masjid Agung Banten, Rt/Rw. 001/011, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Provinsi Banten, bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Jika menggunakan kendaraan umum, dari terminal Pakupatan Serang naik bis jurusan Banten Lama atau angkot menuju lokasi, berjarak kurang lebih 30 menit.

Ratna Poetri
Freelance Writer, Travel Blogger