Inba dan Tahun-Tahun Cahaya

Kita bisa membeli jam tangan model terbaru, tetapi tak akan pernah mampu membeli waktu. Kita bisa membeli rumah megah, mobil mewah, tetapi tak akan bisa membeli kenyamanannya. Kita bisa membeli krim kulit paling mahal untuk mencegah penuaan, tetapi itu bukanlah variabel yang sanggup memanipulasi konstanta angka usia kita. Waktu, kenyamanan, usia adalah mutlak pemberian.

Apa yang telah dan akan kita lakukan dengan waktu yang dipinjamkan itu sebelum kelak harus dikembalikan kepada pemiliknya? Pertanyaan inilah yang akhirnya membuat saya setahun lalu memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan saya sebagai karyawan agar bisa lebih fokus membangun Inba Digital Media (IDM). Dan saya sadar ini sungguh pekerjaan yang tidak mudah. Apalagi harus bergeser dari zona nyaman untuk sesuatu yang belum memiliki kepastian. Kala itu saya hanya memiliki keyakinan—tentu saja setelah mengukur kemampuan. Satu tahun berlalu, dan kini Inba belum bisa dibilang memiliki pencapaian yang berarti.

Tak terasa Desember tahun ini telah menuntun kita pada bilangan 2022, sekaligus mengantarkan kita ke gerbang permulaan 2023, tahun yang konon diramalkan akan menjadi tahun “kegelapan” akibat peperangan dan ketidakpastian ekonomi global. Wallahu a’lam bishawab. Prediksi juga bukanlah suatu kepastian. Hanya saja, jika itu benar akan terjadi maka kita perlu menyiapkan “cahaya” untuk mengusir apa yang disebut kegelapan itu.

Dua tahun belakangan, dunia memang sedang tidak baik-baik saja. Pagebluk Covid-19 yang datang tiba-tiba telah memorak-porandakan banyak hal. Ada begitu banyak kematian dan penderitaan. Ada banyak air mata kesedihan. Tidak sedikit pula rencana yang sudah disusun rapi pada akhirnya harus berantakan dan perlu ditata ulang. Kegiatan-kegiatan pun kala itu terpaksa dibatasi. Rumah-rumah yang semula hanya sekadar sebagai tempat singgah untuk merebahkan mimpi, tiba-tiba beralih fungsi—kembali ke fungsi sesungguhnya, menurut saya—menjadi tempat ibadah, tempat bekerja, tempat belajar, tempat berkeluh-kesah dan bercumbu dengan keluarga kita, juga tempat untuk menjahit kembali perca harapan yang terserak.

 

Inba juga ingin menjadi rumah bagi ragam informasi tentang betapa indah dan kayanya saujana Nusantara.

Kondisi itu juga terjadi pada Inba yang kala itu bahkan masih bayi merah di jagat digital, baik situs Inba TV, kanal YouTube-nya, maupun IDM di sisi bisnisnya. Adalah benar, pagebluk telah menciptakan arus baru bagi akselerasi digitalisasi. Namun, sebagai pendatang baru, harus diakui, Inba belum bisa berbuat banyak untuk turut meramaikannya. Terlebih, Inba memang didesain bukan semata-mata sebagai mesin komersial yang hanya mengikuti arus pasar yang sudah ada demi mendulang cuan. Menambang uang dari jagat digital tidaklah terlalu sulit jika mau mengikuti arus yang ada. Namun, Inba lahir membawa karakter dan idealismenya sendiri. Kelak ia bahkan harus berani berenang melawan arus untuk mempertahankan karakter dan idealisme yang ia yakini.

Jagat digital yang begitu lugas dan nirbatas membuat informasi yang datang berjejal-jejal dari seluruh penjuru dunia dengan ciri dan identitas yang berbeda-beda. Miliaran tontonan hiburan dan informasi diproduksi setiap detiknya dan meninabobokan anak-anak kita. Sementara, batas antara informasi yang salah dan benar menjadi semakin samar. Semuanya bisa dengan bebas dikonsumsi, diadopsi bahkan diduplikasi, tanpa mesin pemilah yang berarti. Tanpa konten penyeimbang yang bermutu, akan seperti apa masa depan generasi kita di masa depan?

Inba ingin menjadi bagian dari mereka yang menjadi mesin pemilah itu dengan memproduksi, menyajikan dan merekomendasikan konten-konten informasi yang benar dan bermanfaat bagi masyarakat. Syukur-syukur menjadi pemantik lahirnya gagasan-gagasan baru dan sumber inspirasi yang positif bagi penikmatnya. Inba ingin menjadi bagian dari orang-orang Indonesia yang tetap merawat dan mempertahankan martabat, karakter dan ciri khas budayanya di tengah derasnya arus informasi dari berbagai kanal dunia digital.

Inba juga ingin menjadi rumah bagi ragam informasi tentang betapa indah dan kayanya saujana Nusantara. Inba juga ingin menjadi etalase bagi mereka yang selama ini berada di lapisan akar rumput, tetapi punya andil besar bagi terciptanya harmoni peradaban di negeri ini. Ini memang tidak semudah seperti dikatakan, tapi benar-benar harus mulai dilakukan. Dan dengan seluruh sumber daya dan kemampuan yang dimiliki, saya yakin Inba akan mampu mewujudkannya.

Melalui tulisan ini, kami juga ingin mengajak siapa pun yang memiliki spirit dan idealisme yang sama untuk bergabung dalam satu barisan bersama kami dalam mewujudkan cita-cita Inba Digital Media.

 

Salam Literasi

W Hanjarwadi

(Editor In-Chief)

 

Editor in-Chief INBA.TV