Kisah Pendulang Madu Kayan Pedalaman Hutan Kalimantan

Madu Kayan/Foto: Andi Irawan. Dok KKI Warsi
Madu Kayan/Foto: Andi Irawan. Dok KKI Warsi

INBA.TV –  Hutan lebat yang mengelilingi pemukiman Desa Data Dian, Kecamatan Kayan Hilir, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara adalah anugerah alam bagi masyarakat di sekitarnya. Bagaimana tidak, dari dalam hutan itu ribuan lebah madu membuat sarang-sarang di batang-batang pohon raksasa yang tinggi menjulang.

Sukmareni menceritakan, lebah madu itu oleh penduduk setempat sebagai hingat. Menurut Koordinator Divisi Komunikasi Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi itu, lebah-lebah itu bersarang di pohon-pohon yang tinggi.

“Dalam satu musim panen, warga desa bisa mendapatkan 800 – 1.300 kilogram (kg) madu. Madu dalam jumlah besar inilah yang menjadi sumber ekonomi masyarakat desa,” kata Sukmareni kepada INBA.TV melalui keterangan tertulis Kamis (22/12/22).

Sobat Inbanesia tentu bertanya, bukankah pohon di hutan pedalaman tak ada yang memiliki? Lantas, bagaimana menentukan siapa warga yang berhak memanen? Menurut  Reni—sapaan akrab Sukmareni—warga setempat telah bersepakat, penemu pertama pohon madu itu adalah pemiliknya.

“Sang pemilik akan membersihkan semak di sekitar pohon agar lebah terhindar dari serangan musuh, seperti semut dan laba-laba,” tutur Reni.

Ketika seorang warga menemukan pohon madu yang sekitarnya sudah bersih, ia tahu bahwa pohon tempat sarang madu itu berarti sudah ada pemiliknya. Maka ia harus menghormati orang yang menemukannya lebih dulu. Namun demikian, menurut Sukmareni, terkadang juga timbul keraguan dari penemu sebelumnya atau ada klaim dari warga yang lain. Jika terjadi demikian, mereka yang mengklaim akan bekerja sama memanen madu dan membagi rata hasil panen.

“Menurut warga desa yang sudah puluhan tahun memanen madu, tak pernah ada konflik karena masalah klaim seperti itu. Mereka percaya, hutan memberikan hasilnya untuk manusia, sehingga mereka tidak layak memperebutkan hasilnya,” kata Reni.

Lanskap Desa Data Dian dan pohon madu/Foto: Andi Irawan. Dok KKI Warsi
Lanskap Desa Data Dian dan pohon madu/Foto: Andi Irawan. Dok KKI Warsi

Sukmareni menceritakan, saat ini sudah hampir 100 pohon madu yang ditandai di hutan. Pohon madu ini juga sudah didata koordinatnya dan tercatat dalam datadian.desa.id. Website ini merupakan aplikasi berisi informasi desa, yang dinamai Potensi Ruang Mikro Aplikasi Informasi Desa (PRM-AID).

Awalnya panen madu ini dikelola secara perorangan. Namun, kemudian warga membentuk Kelompok Usaha Madu Kayan Bernama Uyang Lahai. Masyarakat Kayan saat ini menggantungkan hidup pada madu hutan. Untuk itu, mereka menjaga hutan dengan tidak menebang pohon madu yang rata-rata berusia ratusan tahun dan pohon lain yang menghasilkan bunga. Di samping itu, mereka tidak membuka ladang di area hutan yang dijaga. Upaya perlindungan hutan ini juga membantu mencegah dampak perubahan iklim agar tidak semakin parah.

Ragam manfaat madu Kayan

Karakter madu Kayan ini juga sangat manis. Dari sisi kualitas, menurut alumni Masterchef Indonesia Mariska Tracy dan Aziz Amri, madu Kayan juga sangat bagus.

“Cita rasanya manis, tapi tidak terlalu manis. Ada aroma dan rasa khas bunga hutan. Teksturnya lebih cair daripada madu lain yang cenderung kental. Ada buihnya, yang menunjukkan madu itu masih alami. Itu berarti kualitasnya bagus dan belum terjamah banyak proses,” kata Mariska.

Mariska juga menyebutkan, madu yang bagus pasti harganya jauh lebih mahal daripada madu di pasaran. Dari sisi rasa pun berbeda. Cita rasa madu berkualitas kurang bagus hanya sekadar manis seperti gula, sementara madu berkualitas bagus memiliki rasa manis yang khas. Kualitas madu akan menentukan hasil akhir suatu masakan atau kue.

Reni menambahkan, rasa madu Kayan memang khas dan tajam, karena sumber pakan lebahnya adalah beragam bunga hutan yang masih sangat asri. Musim panen madu yang hanya setahun sekali mengikuti musim bunga di hutan.

“Lebah mulai banyak mengitari hutan, ketika bunga-bunga hutan mulai bermekaran. Ketika bunga sudah berubah menjadi buah sebesar ibu jari, barulah madu dipanen. Agar tak disengat lebah saat memetik madu, panen dilakukan di kegelapan malam, ketika bulan mati atau tidak ada cahaya langit sama sekali.”

Memanen madu bisa dilakukan hingga dini hari. Jika pada satu pohon terdapat banyak sarang madu, waktu satu malam tidak cukup untuk memanen. Bahkan, kalau di pohon itu terdapat 40 sarang atau lebih, waktu panen bisa sampai tiga hari. Itu pun tidak semua dipanen. Sarang yang lokasinya sulit dijangkau akan ditinggalkan dan dibiarkan mengering.

Bisa gantikan gula

Reni bercerita, selain menjual madu Kayan untuk mendapatkan penghasilan, warga Data Dian menyimpan sebagian untuk dikonsumsi sendiri secara langsung maupun sebagai campuran minuman. Mereka percaya madu bisa meningkatkan vitalitas dan kebugaran, serta terapi untuk pemulihan kesehatan, misalnya saat terkena flu.

“Selain memberi rasa manis pada masakan, madu juga bisa menjadi bahan panggang seperti gula. Tapi, madu lebih bergizi daripada gula, karena mengandung mineral dan antioksidan. Kalau pakai madu, masakan mudah terkaramelisasi, sehingga tampilan masakan jadi lebih shiny (berkilau). Hanya saja, untuk proses membuat kue, madu belum bisa seratus persen menggantikan gula. Misalnya, untuk mengocok whipping cream atau putih telur, kita tetap memerlukan gula pasir,” kata Mariska.

Kue atau kudapan yang menggunakan madu cocok bagi mereka yang tidak suka makanan terlalu manis, karena manisnya madu tidak sekuat manisnya gula. Di samping itu, kue berbahan madu bisa menjadi ide jualan kue premium, karena menggunakan madu berkualitas yang harganya mahal.

Dari sisi harga, madu alam seperti madu Kayan memang terbilang mahal. Sebab, perlu keahlian memanjat pohon tinggi, sekaligus keterampilan untuk mendekati sarang madu tanpa terkena sengatan berbahaya. Masyarakat sekitar bahkan percaya, madu hutan dijaga oleh Putri Dayang. Sehingga, untuk memanen madu, seseorang harus meminta kerelaan putri tersebut melalui lantunan lagu yang syahdu. Ada juga yang memanjat pohon dalam diam, sambil berdoa agar diberi kemudahan.

Dahulu warga Data Dian menjual madu dalam bentuk madu mentah. Madu yang baru dipanen langsung dimasukkan ke galon dan dijual dalam bentuk literan tanpa merek. Harga per liternya berkisar antara Rp 150.000 – Rp 200.000.

“Namun, sejak beberapa tahun terakhir, KKI Warsi dan Balai Taman Nasional Kayan Mentarang mendorong warga untuk mengurangi kadar air dalam madu dengan evaporator agar kualitas madu semakin bagus. Kami juga memberi bantuan berupa alat panjat madu agar warga bisa meningkatkan hasil panen,” kata Reni.

Setelah diolah dan dikemas dengan lebih baik, harga madu jadi lebih tinggi. Madu dalam kemasan botol plastik 250 mililiter (ml) dijual seharga Rp 100.000, sedangkan kemasan botol kaca 250 ml dijual seharga Rp 120.000. Selain itu, KKI Warsi juga membantu mengurus Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dari Dinas Kesehatan Kabupaten Malinau.

Reni menjelaskan, sertifikat ini menjadi jaminan bahwa madu Kayan telah memenuhi standar keamanan pangan.  Menurut Reni, madu bisa awet hingga bertahun-tahun jika tempat penyimpanannya higienis.

“Sebaiknya madu ditempatkan di botol kaca atau plastik dan disimpan di suhu ruang yang sejuk dan kering. Bagusnya lagi, madu alam seperti madu Kayan tak mengenal masa kedaluwarsa,” kata Mariska menambahkan.

Serasi bagi bahan lain

Madu yang identik dengan manis ternyata tak melulu untuk membuat makanan manis seperti hidangan penutup (dessert). Madu pun bisa digunakan untuk memasak hidangan gurih (savoury).

“Kita bisa membuat bermacam minuman manis dengan madu, juga kue, puding, panna cotta, dan sebagainya. Untuk menu masakan, madu bisa digunakan untuk membuat ayam panggang, saus asam manis, maupun salad pelapis (dressing),” kata Mariska, yang membuat kue (cake) madu tanpa dipanggang.

Menariknya, untuk membuat hidangan penutup, madu juga serasi dikombinasikan dengan berbagai bahan, antara lain bahan yang mengandung asam, seperti jeruk nipis, lemon, yogurt, susu, mentega, dan krim. Sedangkan untuk membuat makanan gurih, madu sangat cocok dengan daging, hidangan laut (seafood), dan bermacam sayuran untuk salad.

KKI Warsi terus berusaha membuka peluang yang lebih besar untuk memasarkan madu Kayan. Apalagi, saat ini madu Kayan telah dikemas dengan baik dan diberi label berisi informasi singkat yang bersifat edukatif. Dengan begitu tampilan madu Kayan yang hendak dijual lebih bisa bersaing di pasar, sekaligus meraih kepercayaan konsumen.

“Kami berpromosi melalui media massa dan media sosial, termasuk lewat website desa. Diharapkan madu Kayan bisa menjangkau pasar yang lebih luas dan memberi nilai ekonomi yang lebih tinggi bagi warga desa,” kata Reni.

Editor in-Chief INBA.TV