Lembah Fulan Fehan, Sejarah yang Tertidur di Indonesia Timur

Foto: Baktiar (Mlaku Fotografi)

Di sebuah lembah Desa Dirun, terdapat hamparan padang sabana yang membentang, dengan banyak kuda berkeliaran bebas, serta pohon kaktus yang tumbuh subur. Sepanjang mata memandang akan terasa sejuk dan segar mengagumi padang rumput serupa di New Zealand. Kawanan sapi pun turut menikmati rerumputan hijau dengan leluasa, sehingga pengunjung seolah merasakan kebebasan dalam hidup.

Lembah itu bernama Fulan Fehan,  dataran tinggi di kaki sebelah timur Gunung Lakaan. Tepatnya di Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Perjalanan dari kota Atambua (ibu kota Belu), berjarak sekitar 26 kilometer atau kurang lebih 1 jam ke Desa Dirun. Namun, pengemudi disarankan berkonsentrasi selama perjalanan sebab jalannya yang kurang bagus. Setelah itu, pengunjung dapat melanjutkan perjalanan melalui dua alternatif yaitu dari Desa Dirun ataupun Desa Maudemu menuju Fulan Fehan. Dan saat ini, pemerintah sedang melakukan proses pembangunan, agar para pengunjung merasa nyaman dengan berjalan kaki atau haiking hingga tempat tujuan.

Lembah Fulan Fehan/Foto: mangandosetiawan.com

Bagi pengunjung yang hendak bersantai sambil menikmati menu bekal bawaan, disediakan pula tempat peristirahatan berupa gubuk terbuka. Disarankan pula agar mengenakan pakaian tebal, sebab suhunya yang dingin mencapai 21 hingga 30 derajat celcius. 

Tak hanya padang sabana nan hijau, pemandangan sekeliling berupa Gunung Lakaan yang menjulang setinggi sekitar 1.562 mdpl, serta Bukit Batu Maudemu yang terletak di Desa Maudemu, memiliki puncak berupa peninggalan bersejarah dan kuburan bangsa Melus yang konon adalah penghuni pertama wilayah Belu, sebelum datangnya orang Belu beberapa abad sebelumnya.

Foto: Valentino Luis

Objek wisata bersejarah lainnya yaitu benteng peninggalan Kerajaan Dirun, berupa Benteng Ranu Hitu atau Benteng Lapis Tujuh yang terletak di bukit Makes. Benteng ini merupakan benteng perang tradisional zaman dahulu ketika di pedalaman Timor masih marak terjadi perang antara suku. 

Foto: Istimewa

Bentuk Benteng Ranu Hitu berupa lingkaran berlapis-lapis yang tersusun oleh tembok batuan karang. Untuk memasukinya, pengunjung harus berjalan mengikuti pola lingkaran yang ada, sehingga perlu mengitari beberapa kali sebelum sampai ke pusat benteng. Terdapat lapisan-lapisan pertahanan sejak dari pintu masuk hingga ke lapisan terakhir.

Sementara di ujung timur lembah terdapat situs bersejarah bernama Kikit Gewen, berupa kuburan tua yang sangat sakral. Selain itu, gurun tinggi di perbatasan Timor Leste akan tampak jelas sebab jaraknya yang sangat dekat dengan bagian timur Indonesia.

Pengunjung pun bisa menikmati segarnya Air Terjun Sihata Mauhalek yang berada di dekat Desa Aitoun, dan Air Terjun Lesu Til ada di pinggiran Weluli, Kecamatan Lamaknen.   

Juara 1 API 2021

Dalam Anugerah Pesona Indonesia (API) tahun 2021 yang digelar di Labuan Bajo, eksotisme Fulan Fehan mendapat apresiasi yang luar biasa dari Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno hingga berhasil meraih Juara Pertama dalam kategori Destinasi Dataran Tinggi Terpopuler.

Melalui pencapaian tersebut, tentunya perlu dilakukan pengembangan objek wisata supaya menarik lebih banyak wisatawan yang datang dan terutama bagi kelompok pencinta alam.

Ratna Poetri
Freelance Writer, Travel Blogger