Linimasa Kami

Apa yang kamu cari?

Humaniora

Manifestasi Muda Mudi Penjaga Bumi

Ilustrasi kebakaran hutan/Foto: Ylvers, Pixabay

“Setiap generasi punya revolusinya sendiri. Kita, generasi muda saat ini, punya revolusi merestorasi lingkungan, antisipasi, serta mencegah keparahan dampak sosial-ekonomi dari perubahan iklim. Bergerak saat ini pun sudah terlambat, apalagi jika kita tidak bergerak.”

Demikian sepenggal  manifesto yang ditulis para peserta Youth Virtual Conference 2021  bertajuk “Untukmu Bumiku” yang digawangi Tempo Media Group di Jakarta pada awal Juni lalu. Kegiatan itu merupakan acara puncak dari diskusi yang dibangun di ruang-ruang virtual selama satu minggu penuh—ruang yang dihidupkan oleh 11 inspirator dan peserta yang punya semangat untuk mengatasi perubahan iklim.

Mereka, para penyuara manifesto itu adalah anak-anak muda pemerhati lingkungan dari pelosok Nusantara yang mengaku tak bisa diam saja apalagi menunggu melihat alam yang kian dirundung kerusakan. Mereka menuntut keadilan hukum bagi para perusak lingkungan. Mereka juga menyerukan untuk melindungi para pejuang lingkungan, alih-alih melakukan diskriminasi.

Para pejuang lingkungan itu memahami bahwa krisis ekologi, sosial, dan perubahan iklim bukan sekadar dongeng, tetapi nyata adanya. Longsor, banjir, angin topan, yang dipicu deforestasi dan perubahan lahan yang semena-mena semakin sering terjadi. Celakanya, sebagian besar masyarakat Indonesia adalah masyarakat rentan yang tinggal di pulau-pulau kecil, di area rentan, di kota yang air tanahnya disedot habis oleh gedung-gedung tinggi, juga di wilayah yang hutannya telah gundul karena berganti wajah pertambangan dan perkebunan raksasa.

Meredam dampak perubahan iklim harus diiringi dengan perubahan cara pandang terhadap masyarakat adat. Persepsi tentang masyarakat adat sebagai masyarakat tertinggal harus diubah menjadi masyarakat adat sebagai yang berada di garis depan melindungi hutan. Hutan adalah jati diri masyarakat adat.”

Para laskar muda itu juga percaya bahwa pertumbuhan ekonomi tidak seharusnya mengorbankan lingkungan dan masyarakat yang rentan. Pertumbuhan ekonomi bisa dan harus diselaraskan dengan kepentingan menjaga dan merestorasi alam. Dan pemerintah harus mendukung dan memfasilitasi perekonomian dan kewirausahaan sosial yang pro rakyat dan pro lingkungan.

Pejuang lingkungan

Salah satu inspirator Youth Virtual Conference Rara Sekar memandang, manifesto itu menjadi fondasi penting untuk bergerak lebih cepat dalam merespons kerusakan lingkungan dan eksploitasi alam yang terus dilanggengkan oleh sistem ekonomi hari ini.

“Semoga menjadi penyemangat anak muda untuk bersolidaritas, berkolektif, dan bekerja sama mencapai keadilan iklim,” kata Rara.

Selain aktivis lingkungan hidup, Rara Sekar adalah musisi dan antropolog budaya.  Sejak 2016 Rara aktif menyuarakan isu-isu lingkungan dan mempraktikkan berbagai kegiatan ramah lingkungan, terutama berkebun. Baginya, merawat tanah berarti merawat lingkungan, sekaligus merawat ekosistem yang tumbuh dan tergantung pada tanah, termasuk manusia. Ia selama ini juga mengampanyekan pengolahan sampah rumah tangga menjadi kompos dan menggunakannya langsung di dua kebun keluarganya.

Musisi yang sempat menjadi bagian dari grup musik Banda Neira ini memandang, pada dasarnya manusia yang tinggal di kota seperti dirinya memang sudah tercerabut dari hubungan yang dalam dengan alam. Sehingga, aksi menanam sesederhana apa pun, dapat menjadi salah satu cara untuk mengembalikan lagi hubungan yang sudah rapuh dengan alam.

Seirisan dengan Rara, Gede Robi ‘Navicula’ pun selalu bersuara tentang isu sosial dan lingkungan. Petani, musisi, sekaligus produser film ini selalu menggemakan berbagai bentuk keprihatinan terhadap masalah lingkungan melalu lagu-lagu yang ia bawakan bersama Navicula.

“Saya percaya, media populer bisa lebih mudah menjangkau anak muda. Seberapa efektif persisnya, saya kurang tahu. Tapi, bercermin dari pengalaman saya pribadi, saya sangat terpengaruh oleh apa yang saya dengar (musik) dan saya tonton (film). Saya yakin, ada orang-orang di luar sana yang sama seperti saya.”

Lain lagi dengan Du Anyam yang memilih berjuang lewat dunia usaha melalui green business lewat produk anyaman. Sejak memulai usaha pada 2014 silam, hingga kini Du Anyam berhasil memberdayakan 1.200 perempuan di 50 desa di seluruh wilayah Indonesia, terutama Nusa Tenggara Timur dan Papua. Para perempuan ini membuat produk anyaman dan kerajinan tangan berkualitas tinggi dari tanaman lontar.

Komunitas Du Anyam tak hanya berkembang di kawasan Indonesia Timur, tapi juga melebarkan sayap hingga ke Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Menjalankan konsep green business melalui wirausaha sosial, Du Anyam berkembang menjadi penyedia suvenir bagi lebih dari 500 perusahaan lokal dan internasional, dan ditunjuk sebagai merchandise resmi Asian Games 2018. Bagi Du Anyam, green business berarti bisnis yang mengakomodasi daya dukung lingkungan, tidak mengambil sumber daya alam lebih dari kemampuan regenerasinya. Selain ketiga inspirator itu, tentu masih banyak inspirator lain yang tak kalah menarik, di antaranya Kynan Tegar yang berjuang melalui dunia fotografi, serta Alfira ‘Abex’ Naftaly sang  eco traveler dan travel blogger. Kamu, dengan apa mencintai dan merawat alam?

Ditulis Oleh

Founder Inba Digital Media, Jurnalist, Content Creator

Klik utk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gaya

Boga

Inba.tv – Indonesia memiliki ragam kekayaan tanaman lokal sebagai bahan konsumsi. Di antara begitu banyaknya tanaman lokal Indonesia, ada satu buah sejenis berry yang...

Humaniora

“Setiap generasi punya revolusinya sendiri. Kita, generasi muda saat ini, punya revolusi merestorasi lingkungan, antisipasi, serta mencegah keparahan dampak sosial-ekonomi dari perubahan iklim. Bergerak...

Rona

Pada masa lampau, peradaban Nusantara begitu lekat dengan tanaman bakau. Bukan saja sebagai komoditas penunjang ekonomi, tapi juga sebagai pemandu dalam petualangan bahari.

Warta

Inba.tv, Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Ditjen PRL) pulihkan ekosistem mangrove (bakau) di wilayah pesisir Lombok...

Gaya

  Pandemi membuat kita ragu untuk pergi ke salon kecantikan, meski banyak yang sudah beroperasi dengan protokol kesehatan yang ketat. Namun, karena punya lebih...

Warta

Manggarai Barat, NTT, INBA.TV –  Pandemi COVID-19 berdampak cukup besar terhadap industri wisata selam. Kondisi ini juga terjadi di Indonesia Timur yang merupakan destinasi wisata...

Artikel Lainnya

Boga

Inba.tv – Indonesia memiliki ragam kekayaan tanaman lokal sebagai bahan konsumsi. Di antara begitu banyaknya tanaman lokal Indonesia, ada satu buah sejenis berry yang...

Rona

Pada masa lampau, peradaban Nusantara begitu lekat dengan tanaman bakau. Bukan saja sebagai komoditas penunjang ekonomi, tapi juga sebagai pemandu dalam petualangan bahari.

Warta

Inba.tv, Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Ditjen PRL) pulihkan ekosistem mangrove (bakau) di wilayah pesisir Lombok...

Gaya

  Pandemi membuat kita ragu untuk pergi ke salon kecantikan, meski banyak yang sudah beroperasi dengan protokol kesehatan yang ketat. Namun, karena punya lebih...