Menagkal Candu Media Sosial

INBA.TV – Sangat menyenangkan memang, ketika pikiran penat usai menjalankan aktivitas kerja yang begitu padat, kemudian sejenak kita menengok sosial media. Entah untuk melihat informasi berita—yang sekarang sudah bisa diakses melalui platform aplikasi sosial media apa saja, termasuk Inba.TV—atau sekadar menonton konten-konten hiburan. Meskipun itu hanya tentang orang joget-joget enggak karuan—yang ini harus disaring ya—atau konten-konten lucu untuk meredam stres. Atau, apakah para Inbanesia sekalian bahkan menjadi bagian dari pengisi konten itu?

Menjadi konten kreator di media sosial tentu saja bagus, asalkan untuk tujuan positif. Dalam artian, konten itu bisa memberikan dampak yang membangun energi positif bagi penontonnya. Bisa berupa edukasi, kesehatan, inspirasi atau konten-konten hiburan yang tidak mengabaikan norma-norma budaya dan sosial kita sebagai orang Timur, khusunya Indonesia.

Sayangnya, saat ini tidak semua konten yang beredar di sosial media semuanya bermanfaat positif. Banyak konten ‘sampah’ yang bahkan bisa menjadi racun bagi generasi muda Inbanesia. Dalam sebuah pidatonya di salah satu perguruan tinggi, salah satu tokoh inspirasi kebanggaan Indonesia Ibu Sri Mulyani (Menteri Keuangan Indonesia saat ini) pernah menyampaikan rasa simpatinya kepada masyarakat muda Indonesia. Sebab, saat ini waktu mereka lebih banyak dihabiskan untuk fokus pada media sosial. Padahal, resep untuk sukses baginya adalah disiplin dalam menuntut ilmu.

Menurut Sri Mulyani, kondisi ini menjadi persoalan generasi muda saat ini karena hari-harinya dihadapkan pada terlalu banyaknya informasi yang bertebaran dalam gawai (gadget) mereka. Sehingga mereka bingung dalam menyaring informasi yang diperlukan.

Sri Mulyani menyampaikan, kondisi ini berbeda dengan saat dirinya menjadi mahasiswa ketika masih muda dulu. Duli ia leluasa memilih informasi yang penting untuk pengetahuannya dan mana yang tidak karena memang harus dicari di perpustakaan karena semua informasi adanya di buku atau media membaca lainnya.

Tentu saja saat ini zaman sudah berubah, tetapi, Sri Mulyani mengingatkan, rumus kesuksesan adalah belajar dengan sungguh-sungguh. Persoalannya, bagaimana Inbanesia bisa belajar sungguh-sungguh jika terlalu banyak waktu yang dimanfaatkan untuk bermedia sosial?

Maka Sri Mulyani berpesan agar anak muda Indonesia bisa hadapi tantangan itu. Meski ia mengaku tidak punya solusi khusus untuk mengurangi candu ponsel, ia berpesan bahwa belajar adalah yang utama untuk bisa sukses, dan disiplin dalam menjalankannya.

“Prinsipnya, disiplin. Jangan dianggap remeh nasihat-nasihat masa lalu, disiplin, kerja keras, jujur, integritas, reliable (dapat diandalkan), itu tetap sama (berlaku sampai saat ini). Manusia yang punya value (nilai) itu biasanya dicari,” kata Sri Mulyani.

Anak Indonesia terlalu dini bersosial media

Sebuah riset yang dilakukan oleh perusahaan riset independen berbasis kecerdasan buatan (AI) NeuroSensum tahun lalu mengungkapkan fakta memprihatinkan. Sekitar 87 persen anak-anak di Indonesia sudah dikenalkan media sosial sebelum menginjak usia 13 tahun. Bahkan, menurut survei bertajuk “Neurosensum Indonesia Consumers Trend 2021: Social Media Impact on Kids”, sebanyak 92 persen anak-anak dari rumah tangga berpenghasilan rendah mengenal media sosial lebih dini. Berdasarkan riset itu, rata-rata anak Indonesia mengenal media sosial di usia 7 tahun. Dari 92 persen anak yang datang dari keluarga berpenghasilan rendah, 54 persen di antaranya diperkenalkan ke media sosial sebelum mereka berusia 6 tahun. Angka ini merupakan angka yang signifikan jika dibandingkan dengan rumah tangga berpenghasilan tinggi yang hanya 34 persen yang menggunakan media sosial sebelum mereka mencapai usia tersebut.

Padahal, raksasa media sosial seperti YouTube, Instagram, dan Facebook, menerapkan batas minimum usia pengguna, yakni 13 tahun. Untuk melihat kesadaran dan kepedulian orang tua terhadap penggunaan media sosial oleh anak-anak mereka di Indonesia, NeuroSensum meluncurkan survei untuk memahami kesadaran penggunaan media sosial anak-anak di antara orang tua dan kekhawatiran mereka terhadap penggunaan media dalam jaringan (daring [online]) oleh anak-anak.

Tidak hanya usia, hasil riset NeuroSensum juga mengungkapkan adanya perbedaan durasi saat mengonsumsi konten media sosial di antara anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah dan tinggi. Anak-anak di rumah tangga berpenghasilan rendah menghabiskan lebih sedikit waktu di media sosial (2,4 jam sehari) dibandingkan teman seusia mereka di rumah tangga berpenghasilan tinggi yaitu 3,3 jam sehari.

Dalam survei itu juga disebutkan, anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya untuk melakukan kegiatan daring seperti bermain gim dan komunikasi daring (masing-masing 65 persen), belajar secara daring dan mempelajari keterampilan baru (masing-masing 48 persen), pembaharuan status di media sosial dan menonton film atau serial di platform daring (masing-masing 42 persen), membuat video di Tik Tok atau platform video pendek lainnya (37 persen), serta membaca buku atau komik di internet (30 persen).

Dari hasil riset itu, salah satu sisi positif dari anak-anak yang bermedia sosial adalah kemampuan mereka memproduksi suatu karya di usia dini. Terlebih lagi semasa pandemi, anak-anak tidak hanya mengonsumsi konten digital tetapi juga semakin mahir memanfaatkan media sosial untuk membuat konten. Meskipun aktivitas memproduksi konten lebih banyak dilakukan oleh anak dari kalangan atas, hal itu memunculkan kekhawatiran lain di kalangan orangtua.

Survei NeuroSensum juga melakukan riset pada perasaan orangtua mengenai keeratan anak dengan media sosial. Hasil riset menunjukkan bahwa konten yang bersifat kekerasan dan seksual menjadi kekhawatiran terbesar para orangtua yang telah mengenalkan media sosial ke anak-anaknya. Hal ini menjadi perhatian besar bagi 81 persen orangtua. Adapun perundungan atau bullying di dunia maya turut menjadi kekhawatiran 56 persen orangtua di Indonesia.

Kesimpulannya, dampak negatif media sosial secara psikologis lebih mengkhawatirkan dibandingkan dengan efek terhadap kesehatan fisik. Faktanya, 98 persen orangtua lebih khawatir terhadap tontonan negatif yang berdampak terhadap anak-anak mereka.

Orangtua harus jeli

Sosial media memang menjadi alternatif hiburan dikala suntuk. Ia juga bisa menjadi media yang mengasah empati sosial secara kolektif, juga menumbuhkan kreativitas. Sebutlah penggalangan dana melalui media sosial dan sebagainya. Atau orang-orang yang membuat konten berbagi ide, tip dan keterampilan. Namun, tetap saja dalam porsi tertentu ia akan menimbulkan candu. Untuk itu, para orangtua harus berhati-hati dan jeli dalam mengawasi aktivitas anak-anak mereka. Usahakan jangan mengizinkan anak untuk bermain media sosial sebelum usia mereka mencapai 13 tahun. Batasan itu dibuat bukan tanpa penelitian dan alasan. Umumnya, anak-anak sebelum usia itu masih gamang membedakan mana konten yang baik dikonsumsi dan mana yang tidak baik. Untuk itu, bijaklah memanfaatkan media sosial agar generasimu tumbuh sehat dan ideal. Namun demikian, jika anak telanjur mengenal gawai sejak dini, waktu yang disarankan untuk menggunakan gawai pada anak usia 2–5 tahun adalah maksimal satu jam per hari.

Managing Editor INBA.TV, Traveler, Content Creator