Menebah Gulita di Sudut Pedalaman Nusantara

Tri Mumpuni/Foto: Istimewa

Perempuan kelahiran Semarang, Jawa Tengah 6 Agustus 1964 ini bernama Tri Mumpuni. Sejak remaja ia telah mencintai desa. Ia sering dijuluki wanita Listrik. Bukan lantaran pandai menyengat, tapi karena kiprahnya membangun energi terbarukan di desa-desa terpencil dan terluar di pelosok negeri ini.

Usia Bu Puni—begitu ia biasa disapa—memang tak lagi muda. Namun, semangatnya untuk membangun desa tak pernah padam. Melalui Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA), sebuah lembaga swadaya yang didirikan bersama sang suami, Iskandar Budisaroso Kuntoadji pada 17 Agustus 1992 lalu, keduanya mendedikasikan hidup membangun kemandirian dan kesejahteraan masyarakat melalui energi terbarukan mikrohidro (turbin air) dan turbin angin. Ia dan sang suami meyakini, pembangunan di Indonesia harus dimulai dari desa.

Ide menerangi desa itu diwujudkan Tri Mumpuni dan suami dengan memanfaatkan potensi energi air yang ada di wilayah setempat untuk menggerakkan turbin PLTMH. Teknologi itu mampu menyedot air dari bawah bukit hingga ke atas bukit, agar masyarakat tak perlu susah-susah mengangkut air dari bawah ke atas, tempat tinggalnya. Berkat jasanya, kehidupan di puluhan desa terpencil di berbagai daerah di Indonesia perlahan berubah.

Namun, bagi Tri Mumpuni, listrik bukan tujuan utama. Yang lebih penting adalah membangun potensi masyarakatnya dan supaya mereka berdaya secara ekonomi.

Agar pembangkit listrik tenaga air itu mampu berfungsi terus-menerus sepanjang tahun, setidaknya daerah tangkapan air di hulu harus dipertahankan seluas 30 kilometer persegi. Artinya, tidak ada penebangan hutan atau penggundulan vegetasi.

Pembangkit listrik mikrohidro ciptaan Tri Mumpuni ini selain murah juga ramah lingkungan karena tidak menggunakan bahan bakar fosil. Artinya, tidak menambah jumlah gas karbon dioksida ke atmosfer yang memperburuk efek rumah kaca penyebab naiknya suhu muka Bumi secara global.

Tri Mumpuni bersama sang suami Iskandar Budisaroso Kuntoadji/Foto: IBEKA

Pemberdayaan

Sebelum membangun pembangkit listrik di sebuah wilayah terpencil, IBEKA selalu melakukan riset. Dibantu sang suami, Tri Mumpuni dan tim mengumpulkan data untuk melihat kemungkinannya secara teknis. Mereka membuat rencana teknik dan menghitung rencana anggaran biaya. Setelah itu Tri Mumpuni menggalang dana dari volunter hingga ke luar negeri. Setelah dana ada, IBEKA akan mengirim tim sosial yang biasanya tinggal antara dua minggu sampai satu bulan di desa. Di sini proses membangun komunitas dimulai, saat masyarakat diajak berdialog dan berorganisasi.

Karena memegang prinsip listrik hanya alat untuk membangunkan potensi masyarakat desa, cara kerja IBEKA adalah membangun komunitas, mengajak mereka menyadari pembangkit listrik itu milik mereka dan mereka harus memelihara bukan hanya turbinnya, tetapi juga kesinambungan aliran air sepanjang tahun.

Dalam sistem yang dibangun IBEKA, menurut Tri Puni, bukan hanya masyarakat desa yang diuntungkan. PLN dan pemerintah juga untung. Desa yang belum ada aliran listrik PLN (off grid) mendapat pemasukan dari uang langganan yang dibayar penduduk. Sedangkan di desa yang ada jaringan PLN, IBEKA menggunakan skema on grid yang menguntungkan dua pihak. Dengan skema ini, rakyat tidak perlu terpinggirkan dalam pembangunan, bahkan punya dana abadi karena listrik yang menjadi aset desa dijual kepada PLN.

“Ini bukan hanya capacity building, tetapi equity building karena kepemilikan rakyat sangat dihormati,” kata Puni.

Berkat jasa-jasanya, perempuan yang rendah hati dan sederhana in banyak mendapatkan penghargaan dari dalam dan luar negeri.

Managing Editor INBA.TV, Traveler, Content Creator